KAZENAKAZENA
Semua tulisan

Pelajaran dari Manila

2 Juli 2026 · Satoru — Pendiri KAZENA

Setelah Indonesia, izinkan saya bercerita tentang Filipina.

Waktu mulai bekerja di Manila, saya sedikit pasang kuda-kuda. Semua cerita yang saya dengar sebelumnya — soal macet, soal urusan administrasi — terdengar melelahkan. Dan memang, macetnya benar-benar parah. Itu tidak bisa saya bela. Hari ketika kami tidak bergerak dua jam di EDSA mungkin tidak akan pernah saya lupakan.

Tetapi hampir semua kenangan saya yang lain adalah tentang kehangatan orang-orangnya.

Orang Filipina gemar sekali tertawa. Listrik padam, mereka tertawa. Basah kuyup kena hujan deras, mereka tertawa. Awalnya saya heran. Setelah bekerja bersama mereka, saya mulai mengerti: mereka bukan tak peduli. Mereka menerima hal yang berat sebagai hal yang berat — lalu tetap memilih untuk ceria. Itu adalah kekuatan. Kekuatan itu menyelamatkan saya entah berapa kali.

Saya punya seseorang yang memperlihatkan kekuatan itu dari dekat. Seorang rekan perempuan asal Filipina yang saya kenal di Manila — namanya saya simpan sendiri — yang selalu menerima permintaan saya yang tidak masuk akal dengan senyum, dan entah bagaimana sudah menyelesaikan persiapannya sebelum saya sendiri mulai. Di antara saya dan rekan kami dari Indonesia yang tidak bisa berbahasa Jepang, dialah yang selalu menjembatani bahasa; tanpa dia, percakapan kami mungkin sampai sekarang hanya berupa gerak tangan. Teliti, sabar, dan setia melebihi siapa pun. Bisa bekerja dengannya, menurut saya, adalah keberuntungan terbesar yang diberikan Filipina kepada saya.

Banyak rekan kerja saya bekerja demi keluarganya. Setiap hari gajian, saya melihat mereka mengirim uang ke kampung dengan wajah sedikit bangga. Di negeri ini ada kata bayanihan — gambaran satu kampung yang bersama-sama memikul rumah dan memindahkannya. Bahu-membahu demi keluarga dan tetangga bukanlah cita-cita di Filipina; itu pemandangan sehari-hari.

Bahasa Inggris dipakai di mana-mana, penduduknya terus bertambah, tenaga kerjanya muda, tekun, dan terkenal ramah. Siapa pun yang pernah benar-benar bekerja di Filipina pasti merasakan potensi negeri ini. Saya salah satunya.

Indonesia dan Filipina. Apa yang saya terima dari dua negeri ini menjadi fondasi perusahaan saya sekarang.

Sapa saya

Kalau ada yang terasa dekat dengan pengalaman Anda — sedang membangun usaha di Indonesia atau Filipina, atau baru berencana — saya senang mendengarnya. Pertanyaan bisnis atau sekadar mengobrol, keduanya boleh.

Hubungi saya