Saya masih ingat hari pertama mendarat di Jakarta. Hawa panas yang langsung menyergap begitu keluar dari bandara, dan suara klakson dari segala arah. Jujur saja, hari itu rasa cemas saya lebih besar daripada rasa semangat. Bahasa tidak bisa, jalan tidak tahu, kebiasaan bisnis di sini pun tidak paham. Satu-satunya yang saya punya hanyalah tekad: saya akan membangun perusahaan di negeri ini.
Setelah itu, hari-hari saya diisi oleh pertolongan orang lain, berkali-kali.
Ada staf lokal yang rela ikut mengantre berjam-jam di kantor pemerintah ketika saya kebingungan. Ada mitra bisnis yang tidak pernah menertawakan bahasa Inggris saya yang terbata-bata — ia hanya mengulanginya pelan-pelan. Ada ibu warung yang memanggil saya masuk berteduh saat hujan deras, lalu menyuguhkan kopi. Tanpa melebih-lebihkan: setiap langkah maju yang berhasil saya buat di negeri ini berdiri di atas kebaikan orang-orang yang namanya sering tak sempat saya tanyakan.
Di antara semuanya, ada satu rekan orang Indonesia yang bekerja bersama saya sejak hari pertama perusahaan ini berdiri. Namanya tidak saya tulis di sini — nanti dia malu. Dia tidak bisa berbahasa Jepang; saya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, dan bahasa Inggris saya pun seadanya. Tapi anehnya, hal-hal yang penting selalu tersampaikan. Setiap kali saya salah memahami aturan atau kebiasaan, ia meluruskan tanpa sekali pun terlihat kesal. Bagi saya, dia adalah guru, dan kadang-kadang seperti wali.
Jujur saja, pada awalnya hubungan kami adalah 'pemilik dan staf'. Yang mengubahnya adalah sebuah masalah. Rinciannya tidak saya tuliskan di sini, tetapi ketika kami berhasil melewatinya bersama-sama, di dalam hati saya ia berhenti menjadi 'staf' dan menjadi kawan seperjuangan. Kalau perusahaan ini masih berdiri sampai hari ini, itu jelas berkat dia. Izinkan saya menuliskannya di sini: terima kasih.
Di Indonesia ada istilah gotong royong. Memikul bersama, saling membantu. Dulu saya kira itu semacam semboyan. Setelah tinggal di sini, saya melihatnya hidup dalam keseharian. Kalau ada yang kesulitan, orang-orang turun tangan — tanpa hitung-hitungan, tanpa ragu. Berkali-kali saya ditarik masuk ke dalam lingkaran itu.
Dan semakin lama bekerja di sini, semakin terasa potensi negeri ini. Usia rata-ratanya dua puluhan. Setiap sudut kota berdenyut dengan energi usaha kecil, dan semuanya bergerak lewat satu ponsel. Sistem yang dibangun Jepang selama puluhan tahun mungkin akan dilompati begitu saja oleh negeri ini. Momentum itu terasa di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana saya membayar utang budi ini? Itulah yang kini menjadi tema pekerjaan saya. Tapi cerita itu saya simpan untuk tulisan berikutnya.
Ceritakan pendapat Anda
Kesan setelah memakai aplikasi KAZENA, hal yang perlu diperbaiki, fitur yang Anda harapkan — kalau Anda pemilik usaha kecil-menengah atau pekerja lepas di Indonesia atau Filipina, suara Anda-lah yang paling ingin kami dengar. Pesan dalam bahasa Indonesia atau Inggris akan dijawab oleh rekan kami yang benar-benar memahami pasar lokal. KAZENA Books sudah dipastikan hadir di Filipina dan Indonesia — dan jika perusahaan Anda ingin menghadirkannya di negara-negara lain sebagai mitra kerja sama, atau tertarik membeli sistemnya, kami dengan senang hati menunggu kabar Anda. Kami juga menerima pengembangan sistem baru. Tim kami kecil, jadi tidak selalu bisa langsung mulai — tetapi yang kami bangun membawa kualitas buatan Jepang dan tetap dekat dengan cara bisnis berjalan di sini, satu proyek demi satu.
Hubungi saya